Selamat Galungan
dan Kuningan,
Mari Menangkan Dharma Selamanya
HARI ini semua umat Hindu merayakan Penampahan Galungan. Hari itu merupakan simbol pemotongan sifat kebinatangan yang ada dalam diri. Dengan adanya pemotongan tersebut diharapkan umat dapat memenangkan dharma, bukannya hanya tiga hari tapi selamanya. Itu terungkap dalam acara Citra Bali Global 96,5 FM sinergi dengan DenPost, Senin (18/8) kemarin. Berikut laporan lengkap Wati Ananta dari Global FM.
Laksanakan
Ajaran Dharma
Hari penampahan Galungan adalah simbol pemotongan terhadap sifat kebinatangan
yang ada dalam diri. Dengan memotong sifat kebinatangan tersebut mudah-mudahan
kedepan kita dapat melaksanakan ajaran dharma dengan lebih sempurna.
Sridama, Denpasar
Dewan tak
Hadiri Apel
Dalam apel bendera peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-63 Gianyar, dilaksanakan
di lapangan Astina, Gianyar yang dihadiri segenap Muspida dan tokoh masyarakat,
saya amati dari 40 orang anggota Dewan ternyata yang hadir kurang lebih hanya
sepuluh orang. Sangat saya sayangkan. Padahal ini adalah peringatan detik-detik
Proklamasi dan mereka ini diundang. Veteran pejuang yang dalam kondisi dipapah
datang memenuhi undangan. Adakah jiwa nasioanlisme melekat pada diri para
anggota dewan? Mudah-mudahan untuk kedepan mereka tidak hanya megarang tiket
saat ada studi banding saja, namun juga megarang ketika diundang dalam perayaan-perayaan
seperti ini.
Sudira, Batuan
Menangkan
Dharma Selamanya
Dalam perayaan Galungan di Bali begitu banyak babi dipotong sebagai simbol
dari pemotongan sifat adharma dalam dalam diri manusia. Oleh karena itu alangkah
sayangnya jika sekian banyak nyawa babi yang kita korbankan, hanya mampu memenangkan
dharma selama tiga hari selebihnya adharma kembali menguasai diri kita.
Gede Biasa, Denpasar.
Pertanian
Kurang Diminati
Amat disayangkan di Fakultas Pertanian dan Peternakan masih tersisa kursi
sekitar 2 ribuan yang menunggu untuk diisi. Ini artinya apa? Kenapa para guru
besar tidak melakukan sesuatu untuk merangsang minat generasi muda agar tertarik
dan menekuni dunia pertanian.
Sutama, Kerobokan.
Pertanian
hanya Wacana
Jika Indonesia bertekad untuk kembali menjadi negara agraris, itu bukanlah
persoalan yang sulit. Hanya dengan melaksanakan secara sungguh-sungguh apa
yang selalu diwacanakan oleh pemerintah yaitu memperhatikan dan memprioritaskan
sektor pertanian. Jikapun sampai sekarang tidak ada apa-apanya, itu karena
pemerintah hanya berwacana saja.
Dewa Winaya, Tabanan
Pernyataan
‘’Saru Gremeng’’
Pejabat masih suka gamang dalam memberikan statemen- statemen tertentu. Masih
sering saru gremeng dan melempar pernyataan blakas metali. Seperti apa yang
disampaikan Gubernur Bali tentang ekskusi Amrozi ini saya nilai masih gamang.
Sebagai pemimpin Bali, menurut saya gubernur harus mengatakan dengan tegas
bahwa beliau juga menginginkan Amrozi secepatnya diekskusi.
Ireng, Bajera
Kembali kepada
Diri
Menyikapi masalah penampahan Galungan yang mengatakan memotong sifat buruk
dalam diri. Terlepas dari benar tidaknya hal tersebut, itu semua kembali kepada
diri masing- masing. Yang tingkatannya masih rendah melihat penampahan itu
sebagai bagian dari hari raya dan berbeda dari hari-hari sebelumnya dan diisi
dengan pesta. Jika spiritualnya sudah meningkat maka hal itu dianggap sebagai
simbol-simbol saja, terserah kita memaknainya seperti apa? Mengarah ke yang
lebih tinggi, maka kita tidak akan terikat pada simbol, tidak terikat pada
hari raya karena semua hari dianggap suci, tidak terikat ruang dan waktu dalam
berhubungan dengan Tuhan.
Aritonang, Denpasar
Jangan Salahkan
Rakyat
Pada peringatan detik - detik Proklamasi 17 Agustus di istana merdeka ternyata
masih ada mantan presiden yang tidak datang memenuhi undangan. Pernyataan
yang mengatakan peringatan detik-detik Proklamasi hanya sekadar seremonial,
amat disayangkan. Jadi jangan salahkan rakyat jika hanya memasang bendera
juga hanya dalam hati saja. Seperti kata pepatah guru kencing berdiri murid-murid
kencing berlari.
Sinda, Denpasar
Darmayoga, Denpasar
Sudah Ada
Pergeseran
Entah kapan ada sebuah tatanan yang betul-betul diatur dengan baik tersistematis
sehingga ada pembagian tugas mana jalur dan tugas dari birokrasi dan mana
jalur dan tanggung jawab masyarakat. Kita selalu berbicara tentang ajeg Bali.
Dulu kita diberi tahu tentang filosofi proses perjalanan menuju kemenangan
dharma. Namun sekarang kita lihat terjadi pergeseran, contohnya dulu nanceb
penjor dilaksanakan sore hari pada hari penampahan, dan ternyata semakin lama
ada yang sudah nanceb penjor 3 hari menjelang Galungan. Memang zaman selalu
berkembang, tapi apakah kita harus tutup mata dengan tetuek-tetuek yang disampaikan
oleh leluhur yang harus kita jaga dan kita lestarikan? Kenapa selalu terjadi
kontradiktif antara teori dengan praktik?
Alit, Kapal
Tinggi, Rasa
Nasionalisme
Lunturnya rasa nasionalisme dikalangan generasi muda mungkin tidak sepenuhnya
benar. Buktinya di desa saya, saat perayaan peringatan Hari Kemerdekaan RI
ke-63 masyarakat dengan antusias mengikuti berbagai lomba yang diadakan. Pemasngan
bendera pun sangat semarak.
Kak Raka, Mengwi
Dharma Menang
Selamanya
Selamat menyambut hari raya Galungan dan Kuningan, semoga dharma tidak hanya
menang selama tiga hari saja dalam diri kita, tetapi tetap menang selamanya.
Jujur, Sanglah
Peringatan
Sukses
Selamat dan terimakasi kepada ibu-ibu dan panitia serta pengurus perumahan
Taman Gria yang telah sukses menyelenggarakan HUT RI ke-63. Berbahagia sekali
ternyata jiwa nasionalisme masih tetap ada di kalangan generasi muda.
Marbun, Nusa Dua (*)
![]() |
|
|
DenPost, Selasa, 19 Agustus 2008 |
CITRA BALI
Media Cetak Media Elektronik
www.denpost.net home page-nya koran DenPost
|
|