Rumah Makan Bumbu Desa
Hadirkan Masakan Khas Sunda
DenPost, DenPost
Dengan sentuhan budaya Sunda, Rumah Makan (RM) Bumbu Desa hadir dengan nuansa
berbeda. Bertempat di Jalan Raya Puputan No.42, Renon, rumah makan yang
menghadirkan masakan khas Sunda tersebut dibuka Sabtu (16/8) lalu. Ketika
dibuka untuk umum, rumah makan ini diserbu pengunjung. Malah di tengah-tengah
suasana pembukaan yang langsung menyentuh hidangan ini hadir sejumlah pejabat.
Selain memiliki nama yang unik, rumah makan ini juga dihiasi foto-foto dan
lukisan tentang suasana desa, alam dan aktivitas masyarakat desa yang kental
dengan nuansa pertanian. Hal itu diperkuat juga dengan pakaian para karyawan
berpakaian yang mencerminkan masyarakat pedesaan Jawa Barat dalam nuansa
tempo dulu. Walau rumah makan ini ada di tengah-tengah kota, pengunjung
benar-benar diajak ke alam pedesaan yang sarat dengan keindahan alam dan
masyarakatnya yang ramah serta bersahaja.
Tak hanya suasana dan para karyawannya yang unik, ketika pengunjung memasuki
ruangan, disambut dengan salam ‘’Semah’’ (tamu).
Para karyawan serempak menjawab dengan ucapan, ‘’Wilujeng sumping’’
yang artinya selamat datang.
Banyak pengunjung yang cukup kaget, karena salam itu diucapkan berkali-kali
setiap ada pengunjung yang datang. Ciri lainnya dari pelayanan Bumbu Desa
adalah salam karyawan menyilangkan tangan di dada yang bermakna bahwa kedatangan
para tamu akan selalu dikenang dan disimpan dalam hati.
Direktur Utama Bumbu Desa, Arief Wirawangsadita, didampingi Manajer Bumbu
Desa Cabang Denpasar, Rony Umaran, dan Asisten Manajer Asep S. Alam, Minggu
(17/8) lalu mengatakan bahwa Bumbu Desa didirikan pertama kali pada 18 September
2004 di Bandung. Bumbu Desa Jalan Laswi, Bandung, kemudian berkembang di
sejumlah kota besar di Indonesia. Bumbu Desa didirikan sebagai wujud dedikasi
dan apresiasi kepada para jagoan masak zaman dulu. Ibu-ibu rumah tangga
yang berjasa dalam memperkaya khasanah dan cita rasa masakan Sunda, sehingga
menjadi kekayaan keanekaragaman cita rasa nusantara sampai saat ini. ‘’Bumbu
Desa ingin mengangkat dan memperkenalkan khasanah budaya (masakan) Sunda
ke permukaan agar lebih lestari. Kehadirannya di Bali kami harap bisa memberi
sumbangsih dalam penyerapan tenaga kerja. Karena itu kami mohon restu masyarakat
Bali,’’ tandasnya.
Sesuai dengan namanya, Bumbu Desa menggunakan bumbu-bumbu masakan yang ada
di desa, seperti cabai gendot. Logonya pun menggunakan cabai merah. Warna
merah cabai dalam logo tersebut melambangkan keramahtamahan. Karena itu
ada ‘’tim murah senyum’’ yang selalu ramah dalam
memberikan pelayanan.
Menu yang disajikan berupa aneka masakan Sunda, termasuk yang sudah agak
langka seperti tumis udang larong, ikan mujair, tumis genjer, dan semur
jengkol. Di sana juga tersedia gurami goreng dan gurami bakar. Sedangkan
minuman khasnya berupa bajigur dan cingcau, juga tersedia jus terapi. Ada
menu makanan yang unik yakni pepes nasi bakar yang di dalamnya berisi nasi,
ikan asing, hati ayam dan pete, di samping nasi liwet.
Bumbu Desa di Bali termasuk yang ke-19, setelah Makassar. Sebelumnya, Bumbu
Desa hadir di Surabaya, Sidoarjo, Balikpapan, Medan, Batam, Yogyakarta,
Solo, Cirebon, Bogor, Jakarta, dan Bandung. (403)
![]() |
|
|
DenPost, Selasa, 19 Agustus 2008 |
BERITA KOTA
Media Cetak Media Elektronik
www.denpost.net home page-nya koran DenPost |
|