O P I N I
Kisruh di ISI Denpasar
INSTITUT
Seni Indonesia (ISI) Denpasar, belakangan dilanda kekisruhan. Pangkalnya pemilihan
Rektor ISI yang sudah dilakukan tanggal 5 Maret 2008, dianggap tidak sah oleh
Menteri Pendidikan Nasional. Mendiknas mengeluarkan Keputusan Menteri (Kepmen),
meminta untuk melakukan pemilihan ulang, menyebabkan senat ISI yang berhak
menentukan Rektor ISI terbelah menjadi dua. Pihak pertama mendukung pemilihan
ulang, sementara pihak lain menolak melakukan pemilihan ulang, karena pemilihan
5 Maret 2008 dianggap sudah sah!
Sampai sekarang tidak jelas, apa latar belakang sampai Kepmen untuk melakukan
pemilihan ulang Rektor ISI tersebut turun. Mengapa pemilihan yang sudah dilakukan
dianggap tidak sah? Itulah yang belum pernah dibeberkan secara tuntas. Pejabat
Rektor ISI Prof. Wayan Rai, yang kalah dalam pemilihan 5 Maret 2008, hanya
minta pemilihan Rektor diulang berdasarkan Kepmen. Saat pemilihan, Rai dikalahkan
Dr. Nyoman Catra, yang sekarang tentu keberatan, jika diadakan pemilihan ulang.
Menurut hemat kita, semua pihak di ISI harus berjiwa besar. Kalah menang dalam
ajang kontes atau pemilihan, merupakan hal biasa. Apalagi, konon begitu pemilihan
usai 5 Maret, pihak Rektor lama Prof. Rai sudah menandatangani risalah pemilihan
yang dimenangkan Nyoman Catra. Kalau kemudian Menteri Diknas tiba-tiba menginginkan
pemilihan ulang, tentu ada sesuatu yang tidak beres. Mungkin masukan yang
disampaikan kepada Menteri berbeda dengan kenyataan yang ada di lapangan.
Jika semua pihak tidak mau mengalah ada dua pilihan harus dilakukan. Pihak
menteri meneliti kembali jalannya rapat senat ISI 5 Maret 2008, apakah benar
ada ketidakjujuran baik secara moral maupun secara administratif. Jalan kedua,
di bawa ke depan hukum, sesuai ketentuan yang ada.
Terlepas dari cara-cara tersebut, sebetulnya ISI harus malu dengan masyarakat
dan pendukung ISI. Pasalnya anggota senat adalah para intelektual, yang seharusnya
tidak berebut jabatan. Lembaga ilmiah harus mendahulukan kejujuran ketimbang
intrik-intrik yang bersifat politis.
Kita berharap masalah ISI akan dapat diselesaikan dengan kekeluargaan tanpa
ada pihak yang merasa kehilangan muka. Sebagai intelektual, mengutamakan kejujuran
merupakan keharusan, dibanding merebut kursi jabatan, tapi dengan cara-cara
yang tidak fair. (*)
Mobil ‘’SIM’’ Poltabes Denpasar diserbu pengunjung guna mendapat SIM baru.
Ini baru servis.
Anak-anak harus gemar membaca,
demikian tercetus saat HUT ke-60 Bali Post.
Tapi banyak politisi malah gak pernah baca Koran ya?
Semangat juang Veteran perlu
ditularkan.
Asal tidak semangat Veteran gadungan!
![]() |
|
|
DenPost, Selasa, 19 Agustus 2008 |
NURANI
Media Cetak Media Elektronik
www.denpost.net home page-nya koran DenPost
|
|